Layanan Tiada Henti Dengan Hati

Jakarta - Dengan prinsip layanan 'awal bil awal, akhir
bil akhir', pemberangkatan jamaah calon haji (Calhaj) ke Tanah Suci
tahun 2009 semakin rapi. Kelompok terbang (kloter) terakhir
pemberangkatan calon haji Gelombang II dari Tanah Air menuju Tanah Suci
telah tuntas terlaksana pada 21 November 2009. Pemberangkatan sesuai
dengan jadwal Rencana Operasional Penyelenggaraan Ibadah Haji tahun
1430 H/2009 M Departemen Agama RI.
Diharapkan,
pemulangan haji juga sesuai dengan rencana operasional. "Adalah takabur
namanya, kalau pada musim haji tahun ini tidak ada problem. Yang bisa
kami lakukan adalah meminimalisir problem di lapangan," urai Menteri
Agama RI, Drs. H. Suryadharma Ali, MSi dalam acara Chief Editor
Gathering yang digelar di Jakarta sehari sebelum kloter terakhir
diberangkatkan.
Menurut Menag RI, setiap penyelenggaraan haji
selalu memiliki persoalan tersendiri. Penyelenggaraan ibadah haji yang
dalam pelaksanaan melibatkan lintas departemen itu ada terdapat tiga
persoalan pokok, yakni transportasi, pemondokan dan katering.
Selama
ini, sorotan transportasi haji dibagi dalam dua persoalan. Pertama,
transportasi antar negara Indonesia-Saudi pergi pulang (pp), kedua,
transportasi antar kota: Jeddah, Madinah-Makkah, Makkah-Armina
(Arafah-Muzdalifah-Mina), serta dari pemondokan ke Masjidil Haram
Makkah.
Dijelaskan Menag Suryadharma Ali, transportasi udara
jemaah haji tahun 2009 dilaksanakan oleh dua perusahaan (maskapai)
penerbangan, yakni masing-masing Garuda Indonesia sebanyak 302 kloter
yang mengangkut 114.094 orang (59%) dan Saudi Arabia Airline sebanyak
176 kloter mengangkut 78.741 orang (41%). Jumlah tersebut sudah
termasuk petugas haji.
Jadwal penerbangan didasarkan perolehan
slot time dari Airport Autority Arab Saudi, yang rata-rata setiap hari
sebanyak 260 penerbangan seluruh dunia. Indonesia memperoleh slot
penerbangan rata-rata 22 penerbangan per hari. "Demi ketertiban,
efisiensi waktu dan agar tidak terjadi delay melebihi wukuf, maka
penerbangan haji tidak boleh mengangkut penumpang lain, termasuk
kargo," tandas Menag.
Masih terkait dengan problem transportasi
selama berhaji, persoalan transportasi antar kota di Saudi pun telah
diantisipasi. Bahkan Menag RI pun meninjau langsung ke Saudi mendahului
pemberangkatan kloter terakhir (Gel II). Menurut Sekretaris Ditjen
Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) Departemen Agama, Drs.
H.M.A.Ghafur Djawahir, transportasi antar kota perhajian di Saudi
Arabia, Jeddah-Madinah-Mekkah dan Arafah-Mudzalifah-Mina, dilaksanakan
oleh pemerintah Arab Saudi (Naqobah). Transportasi dari pemon-dokan
menuju Masjidil Haram (pp) bagi jemaah yang tinggal lebih dari 2 km
dari Masjidil Haram (Ring II) diserahkan pada Muassasah Asia Tenggara.
Bagi
jemaah haji yang menempati pemondokan dalam wilayah Ring II di Mekkah
(sebanyak 143.603 jemaah atau 72.9% ) disediakan fasilitas transportasi
dari pemondokan ke Masjidil Haram dan sebaliknya. Biayanya dibebankan
dalam kompoenen indirect cost BPIH. Pelaksanaan transportasi tersebut
akan dikendalikan langsung oleh Sektor Khusus. Sedangkan penyiapannya
dilakukan oleh Tim Penyiapan Angkutan Jemaah haji Indonesia di Makkah
tahun 1430H/2009 H. Tim tersebut melibatkan tenaga ahli transportasi
darat dari Ditjen Perhubungan Darat, Dephub.
Operasional
penyelenggaraan ibadah haji selama di Arab Saudi merupakan lanjutan
dari persiapan yang dilakukan di Tanah Air. Pelaksanaan kegiatan di
Saudi tidak dapat dipisahkan dari kebijakan pemerintah Arab Saudi.
Fokus perhatian pemerintah Saudi pada penyelenggaraan ibadah haji tahun
ini masih pada seputar perluasan wilayah Jamarat, perluasan wilayah
Masjidil Haram dan penataan fasilitas Bandara King Abdul Aziz
International Airport (KAAIA) Jeddah yang berstandar internasional.
Sedangkan pemerintah Indonesia berkonsentrasi pada peningkatan
penyewaan pemondokan jemaah, transportasi dari dan ke Masjidil Haram
serta kualitas katering dengan sistem prasmanan.
PPIH pun tidak
henti-hentinya mengingatkan para jemaah. Pada saat menjelang wukuf di
Arafah akan terjadi konsentrasi penumpukan jemaah. Karena itu,
transportasi darat juga akan terhambat ketika memasuki wilayah Mekkah.
Selain itu jemaah juga diingatkan, dalam upaya perlindungan kepada
jemaah haji saat pelontaran jumroh, para jemaah harus berpedoman pada
jadwal yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi.
Operasional
pemberangkatan dan pemulangan jemaah haji regular tahun 2009 dilakukan
selama 30 hari dengan masa tinggal jemaah di Arab Saudi tidak melebihi
dari 41 hari. Pemberangkatan dan pemulangan jemaah melalui sebelas (11)
Embarkasi/Debarkasi yakni, Banda Aceh, Medan, Batam, Padang, Palembang,
Jakarta, Solo, Surabaya, Banjarmasin, Balikpapan dan Makasar. Selain
itu terdapat dua Embarkasi Antara yakni Mataram dan Gorontalo.
Pemberangkatan
kloter pertama pada 23 Oktober 2009 dan kloter terakhir (Gelombang II)
pada 21 November 2009. Sedangkan pemulangan kloter pertama (Gelombang
I) direncanakan pada 2 Desember 2009 dan pemulangan kloter terakhir
(Gel. II) pada 31 Desember 2009.
Pelaksanann pemberangkatan kloter
Gel. I yang berlangsung selama 15 hari sebagian jemaah mendarat di
Madinah. Mereka adalah yang diberangkatkan dari Embarkasi Medan, Batam,
Jakarta dan Surabaya. Sedangkan sisanya mendarat di Jeddah. Pada Gel.
II yang juga berlangsung selama 15 hari, jemaah datang dari seluruh
Embarkasi dan mendarat di Jeddah.
Pada Gel. I, pemulangan jemaah
melalui Jeddah. Gel. II sebagian jemaah dipulangkan dari Madinah, yaitu
jemaah yang diberangkatkan pada Gel. II dari Embarkasi Medan, Batan,
Jakarta dan Surabaya. Selebihnya dipulangkan melalui Jeddah.
Operasional
pemberangkatan dan pemulangan jamaah haji menjadi tanggungjawab Panitia
Penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal PHU, dengan personil terdiri dari unsur Departemen Agama,
Departemen Perhubungan, Imigrasi, Bea Cukai, Departemen Kesehatan, dan
instansi terkait lainnya. Seluruh pengawasan dan pengendalian
operasional dilakukan oleh PPIH Pusat.
Bagi jemaah yang sakit
dan belum dapat dipulangkan pada masa operasional, akan dipulangkan ke
Tanah Air setelah sembuh. Pemulangan mereka menjadi tanggung jawab
maskapai penerbangan.
Dengan layanan sistem transportasi haji
yang makin rapi, diharapkan para jemaah pun bisa khusyuk menjalankan
ibadah, sehingga mereka menjadi haji yang mabrur.
(Sumber: Ditjen PHU Depag RI) (adv/adv) Sumber : detik.com
