Rocky Gerung: Politik Kita Politik Citra, Masih Menonton Orangnya

Jakarta - Pemilu Presiden 2009 mencatat point plus
dalam hal keamanan. Namun dalam kehidupan berpolitik, Pilpres
mencerminkan politik kita sebagai politik yang kurang matang. Tidak ada
capres alternatif yang baru dan diputusa pada menit-menit terakhir.
"Politik
kita itu politik yang apa adanya. Kurang matang dalam konsep dan tidak
ada pertandingan ideologi," kata Rocky Gerung, pengamat politik
Universitas Indonesia (UI) dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (9/7/2009).
Apa
pandangan Rocky Gerung atas Pilpres? Bagaimana Indonesia ke depan di
bawah kepemimpinan SBY? Berikut wawancara detikcom dengan Rocky Gerung:
Bagaimana
menurut Anda tentang Pilpres kemarin, apakah cukup mencerminkan
demokrasi di Indonesia membanggakan karena Pilpres berlangsung aman dan
lancar, tidak seperti di Iran?
Poin plusnya tidak ada kekerasan. Kondisi publik menerima hasil Pilpres sampai hari ini.
Dalam perhitungan quick count,
SBY diprediksi unggul telak, mengapa bisa begitu padahal SBY diserang
isu-isu SARA? Apakah ini mencerminkan bangsa Indonesia sekarang punya
toleransi yang tinggi dan tidak peduli dengan isu SARA?
Soal
itu tentu perlu penelitian lebih dalam apa sebab keunggulan itu. Tapi
kalau katanya karena isu SARA, musti dicari variabel apa yang membuat
dia unggul. Saya kira isu BLT yang membuat SBY unggul.
Isu
yang lain adalah keinginan masyarakat untuk tidak ada perubahan. Kalau
ada perubahan seperti ada goncangan kondisi ekonomi. Selama ini tidak
ada perubahan. Orang betah hidup dalam ukuran maksimal yang sudah
diperoleh selama 5 tahun ini. Ketercukupan kebutuhan pokok.
Yang
kedua, 80 persen pemilih kita pendidikannya sampai SMP. Bayangkan, 80
persen tingkat pendidikan pemilih tidak bisa mengolah isu yang agak
rumit seperti pertahanan, korupsi. Itu nggak nyampe yang di bawah.
Masyarakat nyaman karena kebutuhan pokok sudah terpenuhi.
Ketiga,
memang tidak ada calon alternatif. Dari ketiga pasangan itu bukan
alternatif semuanya. Semuanya bekas calon yang tampil ulang. Masyarakat
berpikir kalau semua bekas calon mending yang sudah ada sekarang.
SBY
tetap unggul karena dia tidak tersaingi dalam kebaharuan ide. Ide
ekonomi, memenuhi kebutuhan pokok. Sementara JK dan Mega bekas calon
bukan orang baru yang datang.
Mengapa Megawati-Prabowo yang mengusung ekonomi kerakyatan dikalahkan SBY yang dituding neoliberal?
Ide
itu, teori ekonomi yang disebut neolib atau pro poor pada Mega, bukan
ide yang bisa dicerna masyarakat berpendidikan di bawah SMA. Publik
menganggap itu ide yang terlalu rumit, pertengkaran yang tidak masuk
dalam pertimbanagan untuk memilih.
Yang dilihat itu masih
personal, tubuh, performance, bukan ide yang diedarkan dalam politik.
Menonton orangnya, bukan substansinya. Nggak ada gunanya membikin debat
meski banyak hal menjadi keunggulan debat.
Tahapan demokrasi
kita memang masih sampai di situ. 5 Tahun lagi masih juga seperti ini,
mungkin 10 tahun lagi ide itu menjadi ukuran terpenting.
Mengapa
Jusuf Kalla (JK) yang mengklaim sebagai Pasangan Nusantara juga kalah
telak, padahal ide-ide, penampilannya dalam debat dan iklannya bagus?
Orang
nggak bisa mencerna isi iklan yang cerdas. Ibu Mega adalah ibu bangsa,
penerus proklamator Bung Karno, ide itu yang sudah fix, dan orang nggak
berubah.
JK tema-tema ekonomi kampanyenya bagus, unggul, unik,
dan bervariasi dibanding SBY yang cuma 'Lanjutkan' itu. Tapi itu nggak
masuk dalam pertimbangan politik dan kemampuan mencerna ide masih
rendah, dan intelektualnya masih kurang. Itu fakta.
Keadaan yang
terjadi memang nggak salah, karena nggak ada oposisi dalam politik.
Misal Pak JK di saat-saat terakhir pilih Wiranto, Mega juga di saat
terakhir memilih Prabowo.
Nggak ada politisi baru yang masuk
dalam putaran kemarin. Semua terlaksana karena pragmatisme. Bukan
karena ada 3 tahun sebelumnya melakukan negosiasi politik, tapi di
saat-saat terakhir. Politik kita itu politik yang apa adanya. Politik
yang adanya apa, ya itu.
Kurang matang dalam konsep dan tidak
ada pertandingan ideologi. Semuanya menghindar, tak ada yang berani
menjelaskan. Semua berhitung untuk tidak populis. Padahal kalau
misalnya neolib memang kenapa? Kan bisa dijelaskan saya punya program
lebih cepat mensejahterakan rakyat.
Indonesia ke depan
di bawah pimpinan SBY akan seperti apa? Apakah kita layak untuk cukup
berharap Indonesia akan menjadi lebih baik?
Tentu
setelah pesta selesai di benak publik akan lebih baik. Itu kan harapan
normal orang yang mengikuti politik. Kalkulasinya tentu saja bahwa apa
bentuk kebijakannya bisa lebih bermutu dengan asumsi neolib? Apakah
infrastruktur akan lebih diutamakan dibanding dengan sektor finansial?
Ingatan
publik Indonesia kan pendek. 5 Tahun didera kesulitan ekonomi tahun
terakhir disiram BLT, Askes, dan sebagainya itu, bisa berubah dalam
satu tahun. Kemampuan mencerna poltik sebagai ide belum berhasil. Baru
menjadi konsumsi sesaat itu yang justru berbekas.
Apa saja yang perlu dicatat untuk memperbaiki kinerja SBY di pemerintahan yang akan datang?
Pertama
korupsi. Jelas. Karena gagasan menekan KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) sampai sekarang masih ada. Dan beban terbesar adalah
kontinuitas pemberantasan korupsi dan tekanan pada KPK terus menerus
terjadi selama satu bulan ini. Ada tanda-tanda koruptor fight back.
Kemudian
ekonomi. Pertumbuhan ekonomi 7-8 persen tentu tidak cukup dengan jumlah
orang miskin, karena nanti lenyap diserap kemiskinan. Jadi nggak
bertumbuh sebetulnya.
Dengan adanya koalisi yang kuat di
pemerintahan dan parlemen, bagaimana potensi penyelewengan kekuasaan
dan siapa yang bisa mengontrolnya?
Bahaya barunya DPR
sangat kuat dikuasai oleh koalisi pendukung SBY. Pemerintahan sangat
kuat. Buruk kalau tak ada perimbangan di parlemen.
Satu-satunya
adalah civil society atau pers. Itu pun juga dilihat apakah suasana
demokrasi mulai terbuka atau mulai ada teguran-teguran (kalau kritis).
Beda kalau Pemilu 2 putaran, karena ada hitungan lain, ada perimbangan hasil Pemilu.
Apakah
Golkar tak mungkin menjadi oposisi? Dan bagaimana kalau Golkar
bergabung dengan PDIP, apakah cukup kuat mengimbangi kekuatan di DPR?
Kan
konsekuensi kekalahan, JK berarti tidak bisa memegang kendali Golkar
lagi. Kalau JK masih menjadi pimpinan Golkar masih bisa menjadi oposisi.
Kalau
tidak, Golkar akan dikooptasi pemerintahan SBY. Yang punya potensi
menjadi Ketua Umum Golkar adalah Aburizal Bakrie yang adalah pendukung
SBY.
Golkar tak beroposisi karena ketua Golkar kalah. Maka kalau
faksi Golkar yang mendukung SBY yang menang, ya tidak (jadi oposisi).
Di
Golkar, Agung (Agung Laksono), Aburizal (Aburizal Bakrie), dan Akbar
(Akbar Tandjung) itu adalah 3 orang pendukung SBY. Yang punya potensi
menjadi ketua umum Golkar bukan faksi JK, tak mungkin. Komposisi
kepemimpinan baru lebih dekat pada kekuasaan.
(nwk/iy)
Berita "Politik" Lainnya
FWLT laporkan indikasi korupsi di PT.GGP |
KPU Nilai Permohonan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo Kabur |
SBY Kunjungi Bumi Serambi Mekah |
Wacana PDIP Masuk Kabinet SBY PPP Tak Khawatir Jatah Menteri Berkurang |
